***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Impor Gula Melejit Petani Tebu Menjerit

Impor Gula Melejit Petani Tebu Menjerit

Written By Byaz.As on Rabu, 25 Desember 2013 | 08.00

Suryajagad.com - Jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu, harga gula saat ini cenderung lebih murah. Bersamaan dengan itu, gempuran gula rafinasi hasil impor semakin menjadi. Akibatnya, para petani tebu merana karena harga tebu kini turun drastis.

Turunnya harga tebu itu pun langsung mendapat respon dari petani, saat ini para petani mulai enggan menanam tebu. Lebih jauh dampak yang sama juga dialami oleh perusahaan pengolah tebu, baik suasta ataupun milik negara. Gula impor yang banyak beredar di pasaran dalam bentuk gula rafinasi maupun gula putih kristal menyebabkan banyaknya petani tebu yang mangalami kebangkrutan.

Menurut rilisan  kluget.com Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengatakan bahwa besarnya gula impor yang masuk ke pasaran membuat harga lelang petani tebu berada dibawah biaya produksi yang dikeluarkan petani.


Berdasarkan data PT Sucofindo, kebutuhan konsumsi gula industri di Indonesia untuk tahun ini sekitar 2,1 juta ton. Namun, pemerintah membebaskan izin impor gula kepada para importir sehingga gula impor yang beredar di pasaran mencapai hampir 4 juta ton. Sementara itu, kebutuhan konsumsi gula rumah tangga sebesar 2,2 juta ton. Seharusnya dapat dipenuhi oleh produksi gula nasional yang menghasilkan 2,5 juta ton.

“Jumlah gula rafinasi yang kelebihan itu akhirnya merembes dan membanjiri pasar di tingkat konsumsi. Padahal, seharusnya itu tidak sesuai dengan peredarannya. Di sini terjadi kekacauan supply and demandyang tidak seimbang,” jelas Sabil.

Akibat hal tersebut, banyak hasil petani tebu yang menumpuk dan surplus. “Seperti gula di Jatim tidak bisa keluar karena seluruh pasar tradisional dan modern sudah dipenuhi peredaran gula rafinasi dan gula Kristal putih yang bahan bakunya berasal dari impor," jelas Sabil.

Seharusnya ada tindakan lebih lanjut yang dilakukan pemerintah untuk melindungi para petani tebu lokal. Bila kecenderungan terhadap gula impor meningkat, maka para petani tebu banyak yang akan beralih ke tanaman lain. ( Sumber )


            Redaksi@Suryajagad.Com
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad