***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Efektifkah Banyak Partai Dan Berkoalisi.....???

Efektifkah Banyak Partai Dan Berkoalisi.....???

Written By Byaz.As on Minggu, 13 April 2014 | 23.30

Suryajagad.Net - Pemilu legislatif 2014 telah usai tinggal menunggu babak selanjutnya dan menurut hasil quick count tidak ada partai yang mampu mencapai perolehan 25 persen suara dan itu semua mengharuskan untuk berkoalisi bila ingin mengajukan CAPRES. Koalisi adalah persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, di mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer sebuah pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai sedangkan oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang tersusun dari koalisi beberapa partai.

Banyak masyarkat tidak memahami apa itu koalisi dan kenapa banyak bermunculan partai-partai baru, makin bertambah jumlah partai di indonesia.  Pemilu 2009 diikuti oleh 44 partai politik terdiri dari 38 partai nasional dan 6 partai lokal untuk Aceh. Pemilu 2014 diikuti 15 Partai 2 partai lokal untuk aceh. peserta pemilu yang banyak menjadi masalah tersendiri bagi KPU, banyak partai banyak biaya. Masalah pencetakan surat suara, pembagian jadwal kampanye, dan kelengkapan administrasi, jadi lebih rumit.

Memang, katanya, di negara demokrasi, parpol tidak bisa dibatasi. Kalau menurut peraturan mereka memenuhi syarat ya boleh ikut pemilu. Namun peserta yang begitu banyak pastilah membingungkan calon pemilih, seperti para orang lanjut usia di pedesaan yang tak bisa baca tulis. Bagaimana mencari gambar partai, kemudian harus mencari nama caleg yang harus dicoblos, yang rata-rata tidak kenal.

Kalau dulu, zaman orde baru, karena hanya tiga partai, pembagiannya jelas. Yang di PPP, yang di Golkar, dan yang di PDI. walaupun demokrasi semu, karena tak ada kebebasan bagi semua warga negara, namun paling tidak orang yang sudah menyatakan masuk partai A, akan khas dengan nuansa perjuangan partai tersebut.

Kalau sekarang yang khas hanya beberapa, terlepas beberapa kadernya juga ada yang pindah partai, PDIP mewakili nasionalis tradisional, PKS Islam kota, PAN Islam Muhammadiyah, PKB Islam NU, Golkar sekuler modern dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan, betulkah Indonesia sedemikian banyak kepentingan sehingga harus diwakili oleh banyak partai? Tidakkah cukup misalnya dengan 3 partai  politik saja? Agar dalam mengambil sebuah kebijakan pemerintahan lebih mudah. 

Kembali lagi rakyat dibuat bingung,dengan getol dan fanatik rakyat memperjuangkan partai tertentu dan secara tegas berseberangan dengan partai lain masalah ideologinya namun dikarenakan dalam pemilu legislatif tidak mencapai 25 persen ,para petinggi partai berkoalisi untuk memperoleh minimal 25 persen agar bisa mengajukan jagoannya maju menjadi Capres. 

Disamping itu rakyat juga sudah muak dengan kinerja para wakil wakilnya yang duduk di gedung MPR dan DPR. Disaat kampanye getol merapat mendekat ke rakyat,blusukan trendnya namun tatkala sudah menjadi dewan tanpa harus disebutkan tahu kinerja mereka. Semoga hasil dari pemilu legislatif 2014 benar benar mampu membawa perubahan pada Negera Indonesia dan kesejahteraan rakyat bisa terwujud. (Byaz)
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad