***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Menentukan Pilihan Dalam Memilih Pemimpin

Menentukan Pilihan Dalam Memilih Pemimpin

Written By Byaz.As on Selasa, 10 Juni 2014 | 21.00

Suryajagad.Net – Pemilihan Presiden dan wakil Presiden sudah diambang pintu, banyak diantara kita kebingungan untuk menentukan siapa yang akan dipilih. Namun kita harus berpartisipasi dan bersikap serius dalam memilih pemimpin. Memilih pemimpin berarti memilih sosok yang akan menjalankan tugas dan amanah kepemimpinan serta mengelola berbagai kebijakan, yang selanjutnya akan berdampak terhadap kondisi komunitas yang dipimpinnya, bisa berdampak positif atau negatif. Dampak positif dan negatif ini bisa berbuah pahala atau dosa karena bermanfaat atau merugikan orang lain.

Sederhananya, memilih pemimpin bisa berdampak pahala atau beban dosa, karena ada dampak dari pilihan yang dilakukan tersebut.Tentu ketentuan pahala dan dosa tersebut menurut ukuran Islam yang menentukan sebuah amal berbuah pahala atau dosa, seperti sengaja dalam memilih pemimpin yang membahayakan sementara ada pemimpin yang lebih baik, perbuatan tersebut bisa berbuah dosa begitu seterusnya.

Memang pada prinsipnya pertanggung jawaban berdasarkan kepada perbuatan individu.  Namun perbuatan seseorang bisa memberikan pengaruh dan dampak kepada orang lain. Seorang muslim akan berfikir panjang dan tidak akan meremehkan perbuatannya sekecil apapun apa lagi jika perbuatan tersebut memiliki dampak dan pengaruh terhadap orang lain. Karena dampak dan pengaruh ini bisa berupa pahala atau bahkan dosa.

Keseriusan dalam memilih pemimpin merupakan bentuk riil mengaplikasikan kepedulian terhadap kondisi sosial-masyarakat. Menegakkan kesaksian ada kalanya memerlukan keberanian dan ketegasan. 

Dalam konteks pemilihan pemimpin, secara riil masih sering ditemukan, seseorang yang memberikan “kesaksian” atau suara, atau bahkan mendustakan “kesaksiannya” lantaran faktor materi yang diraihnya, tanpa memikirkan tanggungjawab serta dampak dari perbuatannya tersebut. Lantaran uang atau janji-janji materi lainnya, idealisme dalam memberikan kesaksian bisa runtuh. Padahal memberikan kesaksian seringkali dianggap hal remeh, sekali lagi,bisa berdampak terhadap kondisi sosial masyarakat, bahkan lingkup yang lebih luas lagi.(Byaz)

Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad