***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » , » Mainan Klasikku Pecah

Mainan Klasikku Pecah

Written By Byaz.As on Selasa, 26 Agustus 2014 | 03.40

Suryajagad.Net – Keharmonisan rumah tangga adalah bentuk hubungan yang dipenuhi oleh cinta dan kasih, karena kedua hal tersebut adalah tali pengikat keharmonisan. Kehidupan keluarga yang penuh cinta kasih tersebut dalam islam disebut mawaddah wa rahmah.  Yaitu keluarga yang tetap menjaga perasaan cinta; cinta terhadap suami/istri, cinta terhadap anak, juga cinta pekerjaan. Perpaduan cinta suami-istri ini akan menjadi landasan utama dalam berkeluarga.

Sejak dulu budaya tersebut selalu ditanamkan dalam keluarga kecilku. UMi dan Abi selalu  menanamkan hidup dengan kesederhanaan serta aturan , semasa kecil punya keinginan berontak dengan semua aturan keluarga, pingin bebas bergaul dengan teman-teman lainnya. Namun hari-hari dari pagi disibukkan dengan belajar dan belajar.

Setelah menginjak dewasa baru disadari inilah maksud dari orang tua menerapkan semua aturan tersebut. Kedua anaknya masing-masing bisa lulus jenjang pendidikan yang bisa menjadi kebanggaan diri sendiri terlebih orang tua dan keluarga.

Sebut saja Putri namaku, setelah lulus dari fakultas Kedokteran wilayah Surabaya dan sekarang kerja disalah satu Rumah sakit swasta di wilayah Banyuwangi. Sedang kakak perempuanku kerja di Rumah sakit Blitar ikut dengan suaminya. Hari-hariku disibukan dengan bekerja dan bekerja tanpa mengenal lelah. Suatu hari selepas bakda Magrib tanpa disengaja tangan kananku menyenggol mainan klasik yang sangat aku sayangi, pecah jatuh di lantai.

Beruntung pada saat itu pasien klinik sepi, sejadi-jadinya menjerit,menangis hanya Umi dan Abi yang mendengar. Spontan mereka berlari menghampirikudi dalam kamar.  “ Ada apa nak koqmenjerit dan menangis…..”, tanya Umi. “ Mainanku pecah Mi….”, jawabku sambil menangis tersedu-sedu. Sementara itu Abi melihatku menangis malah tertawa dan mengakibatkan tangisku makin menjadi. “ Abi ini gimana tho anaknya menangis malah ditertawakan,” ujar Umi sambil membersihkan pecahan kaca mainan.

Dalam kondisi menangis menghubungi pacarku sebut saja Mas Rangga namanya. Orang terdekatku ,orang yang kusayangi berharap akan memberi motivasi dan dihibur. Namun mas Rangga malah tertawa dan menceramahi. “ Mas mainan adik pecah,tangan kanan adik nakal mecahin mainan, kasihan itu dedeknya kedinginan rumahnya pecah masss..”, ceritaku ke mas Rangga dengan manja kekanak-kanakan. “Pecah yo wis thoo beli lagi dak usah ditangisi, koyo cah cilik wae ( Pecah ya udah beli lagi tidak usah di tangisi seperti anak kecil saja) ,” dengan tertawa Mas Rangga menasehati dan meyebabkan tangisku makin menjadi.

“ Kenapa harus ditangisi berpikirlah dewasa, apa yang terjadi dan akan terjadi sudah tertulis di kitab lauh mahfuz, jangankan mainan yang jatuh, daun yang jatuh saja sudah digariskan oleh Allah, dan dengan kejadian ini kita harus lebih hati-hati ,”tambahnya.

Sebenarnya jengkel dengan semua ucapan mas Rangga namun sedekit bisa membuat tenang, selang beberapa menit keluarga dari kakekmenghubungi dan menjelaskan kalau kakek jatuh dari kamar mandi dan  diminta untuk segera datang, dalam keadaan panik berangkat menemani Abi dan Umi kerumah kakek. Karena kondisi kakek yang sangat mengkhawatirkan keluarga segera melarikan ke Rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih intensif.

“ Mas mbah Kung dirawat di rumah sakit adik , kondisi belum sadar diperkirakan ada syaraf otak yang terjepit mohon bantuan doanya yaa,”ungkapku saat menghubungi mas Rangga via sms.

Hampir semalam dirawat kakek belum juga sadar dan inisiatifku memutuskan untuk segera merujuk kakek pindah ke Rumah sakit di Jember. Namun ada sesuatu yang membuat panik bingung serta khawatir Umi juga ikut jatuh sakit tidak sadarkan diri. Dengan perasaan yang berkecamuk di dada membawa Kakek keRumah sakit Jember sedangkan Abi menunggu Umi di Rumah sakit Banyuwangi.

Pada saat bersamaan mas Rangga jatuh terpleset saat melakukan olah raga panjat tebing dan juga harus dibawa ke Rumah sakit. Lengkap sudah ujian dalam hidupku , Kakek dalam keadaan koma di Rumah sakit Jember, Umi di rawat di Rumah sakit Banyuwangi karena kelelahan, tekanan darah rendah serta ada gejala vertigo sedangkan mas Rangga di rawat di Rumah sakit Madiun.

“ Ya Allah kenapa semua harus aku alami dan apa yang harus hambamu lakukan ,ketiga orang yang sangat aku sayangi saat ini terbaring dirumah sakit ,” dengan berlinangan air mata duduk termenung disamping Kakek yang terbaring tak berdaya.

Hampir seminggu Kakek dan Umi dirawat, sedangkan kondisinya belum juga berubah, Umi sering pingsan . Untuk kondisi mas Rangga yang sebenarnya tidak tahu pasti, bila menghubungi selalu bilang sehat dan tidak apa-apa dan meminta untuk fokus memperhatikan kesehatan Umi dan Kakek.

Perang batin pikiran berkecamuk , tenaga terprosir habis-habisan namun dalam hati hanya ada satu keingainan agar semua lekas berlalu Kakek dan Umi lekas sembuh. Apa yang dilakukan Umi untuk anak-anaknya belum sebanding apa yang saat ini aku lakukan, “ Ya Allah sembuhkan mereka orang yang sangat aku sayangi segera Ya Allah ,” kata-kata itu yang ada di hati.

Pada hari ke Sembilan Kakek dirawat , Sabtu pagi selepas dines malam pulang ke rumah untuk ganti baju dan mengambilkan pakain ganti untuk Umi dan Abi. Tiba-tiba keluarga yang berada di Rumah Sakit Jember menghubungi untuk segera membawa  Nenek membesuk Kakek. Lelah , ngantuk sudah pasti namun semua ku abaikan. Saat menghubungi Mas Rangga untuk meminta solusi dengan tenang dan seakan mengetahui apa yang akan terjadi menyarankan kalau pergi ke Jember jangan membawa mobil sendiri.

“ Dik usahakan tenang jangan panik dan jika ke Jember tolong jangan sendiri bawa sopir njiihhh, semua akan berubah setelah nanti tiba disana, tolong harus tabah dan iklas”, nasehatnya.

Bingung dan aneh serta penuh kecurigaan, kenapa mas Rangga mengizinkan untuk pergi ke Jember padahal sebelumnya tidak di izinkan agar lebih fokus mengurus Umi.  Di Jember sudah ada keluarga yang menunggu, dalam perjalanan menuju Jember pertanyaan itu menghantui pikiranku.

Sesampai di Rumah Sakit Jember , sangat terpukul melihat kondisi Kakek yang koma terbaring tak berdaya, batin serasa terisis, menjerit. Sambil memeluk Kakek airmata tak hentinya menetes, tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya semua berubah gelap dan saat mata terbuka sudah terbaring di ranjang. Keluarga memberitahu kalau aku pingsan lama dan kakek sudah tutup usia, sebelum menghembuskan nafas terakhir sempat membuka mata dan tersenyum ke arah Nenek.

“ Mas Mbah Kung ningalin adik dan keluarga,” berurai airmata ini saat memberitahu mas Rangga, entah apa yang terjadi selanjutnya semua nampak gelap lagi.

“ Semua yang hidup bakalan mati termasuk diri kita, keluarga kita, jangan iringi dengan air mata kepergian Kakek, doakan yang terbaik agar Allah mengampuni semua dosa-dosa beliau, diterima semua amal ibadahnya dan semua keluarga diberi ketabahan,kesabaran dan keiklasan, mohon maaf mas tidak bisa hadir atas nama pribadi dan keluarga turut berduka cita sedalam-dalamnya,”bunyi sms mas Rangga.

Sebenarnya dalam kondisi begini sangat mengharapkan kehadiran mas Rangga disampingku, untuk sejenak merebahkan kepala di dadanya, namun kabar mengejutkan dari mas Rangga ,mungkin karena faktor kelelahan , terlalu memprosir diri, dalam kondisi yang belum sehat dan terlalu mengkhawtirkan diriku pingsan lama. Mas Rangga dilarikan ke Rumah sakit lagi, rekam medis menyebutkan kalau tekanan darahnya rendah, maag kambuh dan kaki kanan yang terpleset saat jatuh kram dan harus dirawat inap.

“ Kenapa lagi ujian ini belum juga berakhir, kenapa ya Allah…???Umi belum juga stabil ini mas Rangga harus dirawat lagi, entah apa yang sebenarnya terjadi dan di alami, hanya doa dan harapan agar semua cepat sembuhya Allah,” harapanku.

Saat curahan hati ini ku tulis infomasi terakhir saat menghubungi mas Rangga , sudah sehat dan akan segera dibawa pulang sedangkan kondisi Umi kalau hari ini terus stabil besuk akan dibawa pulang, namun ada satu ganjalan tentang informasi kalau kakek sudah meninggal Umi belum mengetahuinya dan seusai menulis ini kondisku droff jatuh pingsan dan harus masuk UGD.

Apakah ini jawaban dari MAINAN KLASIKKU PECAH…….???  (Bersambung)

( Nama dan alamat penulis di Redaksi, Editor Byaz)

Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad