***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Senyum Terakhir Dimalam Takbir

Senyum Terakhir Dimalam Takbir

Written By Byaz.As on Kamis, 25 Juni 2015 | 02.30

Suryajagad.Net - Tak terasa bulan Ramadhan telah tiba. Hatiku begitu gembira sekali dan ku sambut bulan Ramadhan ini dengan penuh suka cita. Pagi ini adalah pagi pertama sahur. Setelah sholat tahajud,aku keluar dari kamar kostku dan langsung menuju ke dapur. Di dapur ternyata sudah ada Maya dan Kinanti teman satu kostku.
 ”Sudah bangun kamu Rin?,” tanya Maya. ,”Sudah dari tadi May, memang kenapa?, Apa kamu kira aku masih bobok manis ya?,” jawabku yang disambut Maya dengan kerlingan matanya. Kinanti tersenyum mendengar jawabanku itu. ,” Sahur apa Nan?,” tanyaku pada Kinanti. ,” Biasa Rin,nasi putih dan telur mata sapi melirik,” jawab Kinanti. ,” Dan minumnya teh hangat,” kata Maya.
Kamipun tertawa terbahak-bahak karena memang itu makanan yang sering kami makan sehari-hari. Sahur dan puasa hari pertama itu berjalan dengan sukses dan lancar. Hari-hari yang ku lalui berjalan seperti biasa walaupun sekarang bulan puasa.
Sore hari itu,bersama dengan Maya dan Kinanti,aku menunggu waktu berbuka sambil duduk-duduk di teras samping rumah. Kami mengobrol sambil melihat orang yang lalu lalang.
”Rin,’panggil Maya. ,” Ya,ada ,” sahutku. ,”Hmmm,bagaimana kabar Masmu,” tanya Maya tiba-tiba. ,” Baik,” jawabku. ,” Kenapa May, kok tumben tanya. ,” Eeeh,gak apa-apa. Oh ya, lebaran ini dia pulang kan,” tanya Maya. ,” Kamu kok tanyanya aneh sich May,” kali ini Kinanti yang angkat bicara,bertanya pada Maya.,’ Kan tiap lebaran Mas Alvin juga pulang,jangan aneh-aneh tho kamu,’kata Kinanti. ,” Lho,lho,lho,kenapa kamu yang sewot sich Nan,” tanya Maya. Aku hanya tersenyum melihat kedua temanku itu. ,” ya,Mas Alvin pulang,” kataku.
Mas Alvin adalah tunanganku dan rencananya kalau tak ada aral melintang setelah lebaran kami akan melangsungkan pernikahan. Karena perusahaan tempat aku bekerja libur lebih awal, aku memutuskan untuk pulang kampong.
Malam itu setelah sholat tarawih,aku asyik melihat televisi ketika ku dengar suara ibuku. ,” Rin,Rin. ,” Ya bu,ada apa,” jawabku. ,” Hand Phonemu berbunyi tuch,cepat angkat,’ kata ibuku. Tanpa dikomando yang kedua kali,aku langsung melompat ke kamar untuk mengakat telpon.
 “Assalamualaikum Mas Alvin, apa kabar, udah selesai Terawih,” tanyaku.  “ Walaikumsalam dik, Alhamduillaah udah dan baik koq kabar mas, emmm addik sendiri gimana, sehatkan,” jawab mas Alvin. ”Mas kapan datang, koq dak BBM kalau juga udah pulang,” tanyaku. ,” Tadi pagi sayang, maaf pingin ngasih kejutan saja ke adik,” jawab Mas Alvin. Lalu kami ngobrol sampai kurang lebih jam sebelas malam.
Ada sesuatu yang ganjil pada ucapan mas Alvin, saat menelpon. Ada pesan-pesan yang tidak biasa dia lakukan, seakan akan mau pamitan pergi jauhhh, “Sayang mas sangat menyayangimu, mas harap apabila suatu saat nanti mas pergi, sayang harus iklas, tak boleh nangis, harus senantiasa menjaga ibadahnya, mas mohon maaf apabila ada salah maupun khilaf selama ini yaa....,” penggalan telpon mas Alvin yang sempet aku rekam.
Sudah hampir 2 hari semenjak malam itu mas Alvin tak menelponku. Saat aku mencoba menghubungi selalu diluar jangkauan.. Entah kenapa sejak siang tadi perasaanku terasa tidak enak. Resah,takut,gelisah bercampur aduk jadi satu. Aku juga merasa rindu yang begitu dalam kepada Mas Alvin.
”Kamu kenapa Rin,” tanya Mbak Ratna kakakku. .” Dari tadi kok mondar-mandir seperti orang gelisah begitu. ,” Entahlah Mbak,sejak siang tadi perasaanku gak enak,aku juga ingat mas Alvin,tak biasanya aku seperti ini,” jawabku. ,” Ada apa dengan Mas Alvin ya?” ,” Kamu sudah menelponnya,” tanya Mbak Ratna. ,”  Sudah mbak tapi selalu diluar jangkauan bête bingitt,” jawabku cemberut. ,” udah jangan manyun gitu napa, jelek ahhh,daripada kamu gelisah,coba kamu telpon adiknya,” saran mbak Ratna sambil mengutak-atik piranti kerjanya.
Baru saja Mbak Ratna berhenti bicara,ibuku tampak datang  menghampirikku dan memberitahu ada telpon dari Ardyan adik dari mas Alvin. Sebel bingit, menunggu mas Alvin yang telpon malah adiknya yang menghubungiku.
“Assalamualaikum dik,ada apa ya, emmm mas Alvin keman sih dik, koq mbak hubungi handphonenya diluar jangkauan terus?,” tanyaku dengan hati berdebar. “Maaf mbak, saya atas nama keluarga dari mas Alvin mohon maaf baru bias memberi kabar, Mbak harus sabar, tabah dan iklas yaaa,” ujar Ardyan dengan suara bergetar saat menelponku. ”Ada apa sihhh dik,tolong jangan buat mbak penasaran,” jawabku dengan suara meninggi . Lalu Ardyan menceritakan semua kejadian yang menimpa mas Alvin selama ini. hingga membuat aku jatuh terduduk di lantai. Ibu dan kakakku kaget melihatku. Telpon aku tutup. Mbak Ratna menghampiriku. Semua nampak gelap,tubuhku terasa lemas dan tak mempunyai tenaga. Mas Alvin tunanganku telah pergi menghadap illahi.
Tidak ada yang memberitahu terkait penyakit yang selama ini dia derita. Dibalik senyum manisnya,karakter pendiamnya tidak nampak bahwasanya menyembunyikan penyakit yang mematikan.
“Bu Mas Alvin bu…,Mas Alvin bu….,”kataku dengan sesungukan memeluk Ibu. “ Iya sayang kenapa dengan Alvin, tolong tenangkan hatimu cerita ke ibu ya sayang,”  tanya ibuku sambil membelai lembut rambutku. Dengan terbata-bata,tangisan yang masih meledak-ledak aku ceritakan kondisi Alvin. “ Mas Alvin telah pergi mengahadap Allah buuu, pergi untuk selamanya ninggalin aku,” ungkapku dengan tangisan yang makin kencang hingga memmbuat ibu dan kakakku pun turut menangis.
Sore itu juga kami sekeluarga pergi kerumah orang tua Alvin untuk mengantar dia yang ku sayang dalam peraduan terakhirnya. Tak hentinya airmata ini menetes membanjiri pipi. Entah kenapa kedua kaki ini terasa berat untuk meninggalkan pemakaman tunanganku. Suasana pemakaman telah sunyi,para pelayat telah pulang ke rumah masing-masing. Aku masih bersimpuh duduk  di sisi makam Mas Alvin. Airmata ini seakan  tak mampu  lagi ku bendung.
“Mas Alvin jahat, mas Alvin kejam, kenapa mas ningalin adikkk………??? Kenapa masss selama ini bohong, tak pernah cerita tentang penyakit ini, kenapa massssss…………??? ,” jeritku sambil memeluk tanah pemakamannya yang masih basah. Mas jahatttt tega ninggalin adikkkkkkk,” tangisku makin menjadi dan semua tampak gelap, hampa serta tubuh ini ringan melayang-layang.
Saat mata ini terbuka, terlihat ibu,kakak dan semua keluarga dari almarhum tunanganku duduk mengelilingiku disebuah ruangan Rumah Sakit. “kamu sudah sadar sayangg,” peluk ibuku erat. “Dimana mas Alvin buu,mas Alvin kemana buuu…,” tanyaku seiring dengan menetesnya airmata ini membasahi pipi.
Semua keluarga mencoba menenangkanku, menurut cerita ibu, hamper 3 jam lebih aku tak sadarkan diri hingga membuat panik semua keluarga. Kenangan bersama Mas Alvin terbayang di mataku. Aku tak menyangka kalau Mas Alvin begitu cepat meninggalkan aku. Gema takbir  Idul Fitri yang biasa kami habiskan malam bertakbir bersama, kini akan ku nikmati sendiri, kenangan indah saat bersama kini tinggal cerita abadi yang tak akan pernah punah dalam hidupku. Selamat jalan Mas Alvin,selamat jalan Sayang,semoga kau damai disisi Allah ta’ala, Adik akan selalu menjaga cinta suci ini, mimpi indah selalu ya sayang dalam tidur panjangmu dipintu surga nanti kita bertemu. I Love You Maz Alvin.

Pengirim Cerpen : Any
Editor                  : Byaz
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad