***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Masyarakat Lebah Tidak Individual

Masyarakat Lebah Tidak Individual

Written By Byaz.As on Sabtu, 20 Februari 2016 | 21.00

Suryajagad.Net - Ketika seseorang, komunitas ataupun organisasi bermaksud untuk mewujudkan cita-cita dan impiannya;  di mana manusia saling menghargai, menghindari penindasan, terus menerus menumbuhkan cinta kasih, waspada terhadap setiap gejala ketidak-adilan, peka untuk tidak terjerumus ke dalam perilaku diskriminasi, merendahkan sesama manusia atau sebaliknya: menjunjung manusia terlalu berlebihan sehingga mendewakannya. Juga impian untuk membangun peradaban yang lebih baik dan adil, membangun harkat, kepribadian serta kehidupan yang mandiri .

Ternyata tak semudah diucapkan dalam kata-kata belaka, dibalik itu semua memerlukan berbagai daya dukung antara lain, harus terkandung prinsip, nilai-nilai yang disepakati, diyakini dan dijaga keberadaaannya, syarat serta prasyarat yang harus diadakan, posisi peran yang secara sadar dipilihnya. Tentu harus juga didukung segala piranti yang diperlukan. Disisi lain ada pencukupan kebutuhan menyangkut pemahaman dan kemampuan yang jangkep (lengkap).

Pendek kata impian itu tidaklah mungkin akan jatuh dari langit, tidaklah mungkin dapat dicapai melalui jalan pintas, bahkan tak akan terjadi manakala tak melalui proses, ketiadaan sejarah dan peristiwa dalam realitas kehidupan sehari-hari. Percuma saja bila yang terjadi hanya teori yang dihafalkan, sangat sia-sia kalau hanya melakukan ritual tak jelas juntrungnya, dimana salah satunya melalui ikhtiar membangun “kendaraan” yang dinamakan organisasi.

Kalau dalam dunia lebah, organisasi dapat diumpamakan sebagai sarangnya lebah (orang sering menamakan kluthukan, Tolo), agar perkauman para lebah dapat memproduksi madu secara komunal, karena madu yang diproduksi secara individual menjadi tak ada artinya terutama menyangkut masalah volume madu yang harus dihasilkan. Didalam sarang lebah (Kluthukan, Tolo) perkauman para lebah itu, untuk memproduksi madu secara terus menerus dan berkelanjutan, diperlukan tatanan, peradaban. Ada kedisiplinan, ada keteraturan dan tanggung jawab, kewajiban masing-masing anggota perkauman lebah itu.

Belum lagi, untuk menghasilkan produksi madu yang bermutu para anggota perkauman lebah ini akan sangat tergantung dari daya dukung lingkungan sekitarnya, tanaman, tetumbuhan, bunga-bunga apa saja yang tersedia, artinya ada daya dukung eksternal yang tidak bisa diadakan oleh perkauman para lebah ini, bagaimana pertautan antara lebah dan lingkungan disekitarnya juga sangat menentukan keberadaan perkauman lebah pada zaman berikutnya.

Tentu saja lebah bukan manusia, namun kami mencoba untuk mencari padanan yang gambang untuk dimengerti dari segala silang sengkarut kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan kira-kira demikianlah bagi orang-orang biasa yang mendambakan tatanan kehidupan yang lebih baik dan adil. 

Secara sederhana bagaimana menumbuhkan cita-cita bersama, membangun menejemen gerakan yang sistematis serta mencoba memaparkan berbagai perangkat (ubo rampe) yang diperlukan untuk menjawab perubahan yang kita cita-citakan seperti halnya para lebah yang ingin memproduksi madu bagi kehidupan bersama.

Sumber : Caknun.com
Editor  : Byaz
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad