***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Deklarasi Hari Santri 22 Oktober,Peran Santri Jadi Penggerak Pembangunan Indonesia

Deklarasi Hari Santri 22 Oktober,Peran Santri Jadi Penggerak Pembangunan Indonesia

Written By Byaz.As on Jumat, 23 Oktober 2015 | 20.30



Suryajagad.Net - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan Penetapan Hari Santri merupakan apresiasi tinggi dari pemerintah bagi kalangan santri yang demikian besar jasanya bagi republik ini. Namun lebih dari sekadar apresiasi, Hari Santri ini juga merupakan wujud komitmen pemerintah untuk mengangkat harkat martabat kaum santri yang selama ini termarjinalkan dan dipersepsikan sebagai kelompok terbelakang. 

“Pemerintah saat ini ingin mengubah peran santri, dari sekadar obyek komoditas politik, menjadi subyek penggerak pembangunan dan kemajuan Indonesia,” terang Menag dalam sambutannya pada acara Deklarasi Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal Jakarta, seperti dalam rilis Suryajagad.net dari Kemenag.go.id, Kamis (22/10/2015). 

Dikatakan Menag, langkah-langkah itu (mengubah peran santri) telah dimulai dengan peningkatan mutu pendidikan Islam, pemberdayaan pesantren, dan penguatan ekonomi umat. Kementerian Agama telah bekerja sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, hingga Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar pesantren mendapatkan perhatian yang layak dalam program pendidikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. 

“Pemerintah mengupayakan agar para santri dan lulusan lembaga pendidikan Islam memiliki daya saing yang lebih tinggi di tengah kompetisi global. Sebab, mereka adalah modal besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi dalam kurun waktu sekarang hingga satu dasawarsa mendatang,”terangnya. 

Menurutnya, Islam ala santri bermodelkan wasathiyah (moderat) dan waqi’iyah (realistis) yang bercirikan ‘adalah (adil), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Islam ala santri merujuk pada metode dakwah Walisongo di bumi Nusantara yang membumikan akulturasi budaya, penyelarasan konteks waktu dan kondisi lingkungan, serta kemaslahatan bersama. 

“Islam ala santri adalah Islam rahmatan lil alamin yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan budaya lokal, kebiasaan, dan cara berpikir masyarakat Indonesia yang majemuk,” tuturnya. 

Itu sebabnya, kata Menag, santri di sini tidak dimaknai secara sempit sebatas kaum sarungan yang belajar dan mengembangkan ilmu di pondok pesantren. Secara luas santri dimaknai sebagai umat Islam Indonesia yang mengamalkan ajaran Islam sesuai konteksnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

“Pencanangan Hari Santri hakekatnya adalah penegasan bahwa Indonesia adalah Negara demokratis sekaligus religius, sehingga mendorong kesadaran kolektif pentingnya mempertahankan religiusitas Indonesia yang moderat di tengah percaturan pengaruh idiologi agama yang cenderung ekstrim,” pungkas Menag. (Byaz)
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad