***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Sikap Su’udzon Menutup Jalan Rejeki

Sikap Su’udzon Menutup Jalan Rejeki

Written By Byaz.As on Kamis, 26 November 2015 | 21.45

Suryajagad.Net - Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar orang berbicara dengan nada pesimis. Sikap ini didasari ketidakmauan untuk mencari kejelasan terhadap suatu perkara. Hal ini bahkan terjadi pada diri kita sendiri. Atau ada di antara kita yang suka menghukumi dan menghakimi suatu perkara dengan hanya berdasar pada bukti dan data yang sangat sedikit .

Sikap seperti ini biasanya muncul karena kita sering terburu-buru berprasangka negatif terhadap suatu perkara yang belum jelas dan kita kurang bijaksana dalam menyikapinya. Maka yang muncul kemudian emosi, marah, mau menang sendiri, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Sikap menganggap dirinya yang paling benar. Sikap inilah yang sering jadi penyakit di tengah masyarakat.

Sikap ini mengingkari kenyataan bahwa banyak orang di sekitar kita yang mungkin lebih pinter, lebih berpengalaman, lebih berhak bicara, atau dalam bahasa lain tidak bisa nguwongke  orang lain. Sikap nguwongke menjadi barang langka di tengah-tengah kita. Kita lebih suka dan nyaman kalau dipuji-puji dan enggan berkomunikasi secara terbuka.  Suka mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak mau instropeksi diri.

Kualitas seseorang bisa diukur dari bicaranya. Orang berkualitas baik adalah orang yang bicara pada waktu dan tempat yang tepat, dan sarat dengan hikmah, yaitu mengandung ide, gagasan , ilmu, dzikir, dan solusi yang bermanfaat bagi semua orang.

Allah ta’ala menyebut kualitas dengan bahasa-bahasa yang sangat indah dalam AL Qur’an; Muttaqiin (orang-orang yang bertaqwa), muhsiniin (orang-orang yang suka membalas dengan lebih baik), Ahsan ( lebih baik), Shoobiriin (orang-orang yang sabar), Syaakiriin (orang yang banyak bersyukur)

Begitu luas akibat buruk yang ditimbulkan oleh sikap su’udzon atau buruk sangka ini. Orang yang suka su’udzon cenderung suka menilai orang lain dengan memperbesar kekurangannya. Maka dicari-carilah kekurangannya. Kelebihan yang tampak pada orang lain selalu ditutup-tutupi, atau kalaupun disebut maka hanya sedikit dengan maksud untuk menjatuhkan. Inilah mengapa, su’udzon bisa menutup jalan rejeki.

Dalam kehidupan ini tanpa kita sadari sering bersu’udzon kepada Allah ta’ala.  Berprasangka yang tidak baik kepada Allah ta’ala ditunjukkan dengan sikap pesimisme, menyerah pada nasib, suka mengeluh, selalu membandingkan kebaikan diri sendiri dengan orang lain. Hampir tidak ada celah positif dalam hidupnya. Padahal  apa yang terjadi dan yang akan terjadi sudah menjadi qodrat Allah ta’ala.

Sebuah ujian dalam kehidupan seharusnya kita menjalani dengan rasa syukur dan lebih meningkatkan keimanan serta ketaqwaan. Hikmah terindah akan didapatkan apabila itu bisa dilaksanakan dengan terus belajar sabar dan iklas.

Dalam mengatasi hal ini hanyalah dengan mengubah pola pikir kita dalam menghadapi sesuatu. Kita menyangka baik terhadap orang lain, kalau sangkaan itu salah maka kita tetap dapat pahala kebaikan. Akan tetapi sebaliknya kalau kita su’udzon terhadap orang lain akan berdosa. Berangkat dari su’udzon ini pula kita sering terjatuh ke dalam kubangan Lumpur dan tanpa kita sadari menutup jalan rejeki. (Byaz)
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad