***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Belajar Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Belajar Menjadi Manusia Yang Manusiawi

Written By Byaz.As on Jumat, 05 Februari 2016 | 07.48

Suryajagad.Net - Manusia adalah makhluk ciptaan Allah ta’ala yang dianugerahi akal dan nafsu. Baik akal maupun nafsu berperan dalam setiap tindakan dan keputusan manusia. Oleh karena itu manusia dibedakan antara orang yang akalnya lebih mendominasi nafsunya dan sebaliknya. Kedua jenis manusia ini akan sangat berbeda dalam perkataannya, perilakunya dan keputusan-keputusan dalam menentukan pilihannya.

Perbedaan itu mungkin tak terlihat saat kita melihatnya sekilas dari luar, tetapi akan sangat terlihat ketika kita melihat ketika dia berinteraksi dengan orang lain dan mulai menghadapi masalah-masalah hidupnya. Interaksi dengan manusia lain inilah yang menjadi indikator karakter seseorang, walaupun masih ada interaksi lain yaitu interaksi dengan lingkungan dan interaksinya dengan Tuhannya, tapi kedua interaksi itu cenderung lebih sulit diamati dibanding interaksinya dengan manusia lainnya.

Walaupun begitu interaksi antar manusia sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan sang pencipta. Manusia yang memiliki kadar keimanan yang tinggi akan memperlakukan orang lain sesuai dengan ajaran agamanya. Faktor ketuhanannya ini akan sangat mempengaruhi setiap tindakan dan pilihan-pilihan hidupnya. Kedekatan seseorang dengan Allah ta’ala akan tercermin dalam hubungannya dengan manusia lainnya. Manusia yang memiliki hubungan baik dengan Allah maka akan memiliki hubungan yang baik pula dengan sesama manusia.

Manusia memiliki 2 dimensi, yaitu dimensi lahir dan dimensi batin. Dimensi lahir manusia adalah fisik yang kita lihat sehari-hari sedangkan dimensi batinnya yaitu perasaan dalam hati. Dimensi batin ini tidak dapat kita lihat, tapi dapat kita rasakan. Rasa cinta, kasih, sayang, segan, takut, berani, dan kasihan adalah sebagian dari contoh perasaan yang selalu ada pada manusia. Perasaan ini mewarnai pergaulan manusia sehari-hari.

Manusia yang manusiawi memiliki beberapa ciri. Pertama, manusia yang manusiawi memperlakukan manusia lain seperti halnya manusia sebagai qodratnya. Setiap manusia memiliki perasaan sehingga pasti ingin diperlakukan dengan baik, cinta kasih, ingin dihormati dan dihargai. 

Manusia yang manusiawi sangat menyadari itu. Dia akan memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan. Dia menyayangi manusia lain dan senantiasa memperhatikan perasaannya. Manusia yang manusiawi tidak egois dan mementingkan dirinya sendiri. Bahkan dia akan lebih mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingannya sendiri. Perasaannya begitu halus sehingga dia tidak akan tega menyakiti perasaan orang lain, karena yang ada dalam hatinya hanyalah rasa cinta kasih, bukan dendam dan iri dengki.

Ciri kedua dari manusia yang manusiawi yaitu dia mampu menundukan nafsunya atas akalnya, sehingga segala tindakannya merupakan hasil pemikiran yang matang dengan segala resiko bagi dirinya dan lingkungannya. Apabila ketika dia dihadapkan kepada pilihan dimana pilihan itu menguntungkan dirinya tetapi berdampak buruk bagi lingkungannya, maka dia tidak akan mengambil pilihan itu. Dan begitu pula ketika dia dihadapkan kepada pilihan dimana pilihan itu menguntungkannya untuk masa sekarang tetapi merugikan masa depannya, maka dia pun pasti akan menolaknya.

Ketiga, manusia yang manusiawi memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia akan sangat peduli dengan permasalahan sosial di lingkungannya. Hal-hal yang menyangkut kemiskinan, kebodohan, bencana alam, permasalahan kesehatan dan kejahatan kriminal selalu menyentuh nuraninya untuk ikut serta meringankan beban saudaranya. 

Memang manusia yang manusiawi disini tidak selalu memegang peranan yang besar tapi dengan kemurnian hatinya. Dia adalah orang yang paling concern dengan permasalahan tersebut. Justru orang yang memegang peranan besar biasanya lebih ditunggangi kepentingan-kepentingan tertentu. Dia tidak selalu bergerak di bidang ini, tapi da rela menyumbangkan pemikiran serta melakukan apa yang bisa dia lakukan. Yang pasti dia selalu menjadikan permasalahan itu sebagai wacana dalam kesehariannya dan dia tularkan kepada orang lain di lingkungannya.

Keempat, yaitu manusia yang manusiawi pasti memiliki hubungan yang erat dengan Allah ta’ala yang menciptakannya. Karena sesungguhnya latar belakang seseorang bersikap dan memiliki karakter tertentu dibagi menjadi 2, yaitu alasan duniawi dan alasan ukhrawi. Sikap dan tindakan yang diambil berdasarkan alasan duniawi maka tidak ada nilainya di hadapan Allah ta’ala.

Kadar ketulusan inilah yang dimiliki oleh manusia yang manusiawi. Perasaan halus dan bersih bahwa semua amalnya ditujukan untuk Allah semata. Hal itu memberikan ketenangan kepada semua pelaku kebaikan. Manusia yang manusiawi memiliki keyakinan agama yang kuat. Karena tanpa itu, manusia melakukan sesuatu dengan pertimbangan kepentingan-kepentingan tertentu dan kepentingan-kepentingan itu tidak selalu bermanfaat bagi orang lain. Alasan duniawi sangatlah sempit dan terbatas dan tidak memberikan ketenangan seperti halnya alasan ukhrawi. Alasan ukhrawi ini merupakan kekuatan hati yang tidak ternilai harganya dan tidak semua orang memilikinya. 

Editor    : Byaz
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad