***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Mengalirnya Air Mata Toile Dan Air Mata Para Pendoa

Mengalirnya Air Mata Toile Dan Air Mata Para Pendoa

Written By Byaz.As on Minggu, 22 Mei 2016 | 00.00

Suryajagad.Net - Setiap kali menjelang siang, Toile berkeliling kemana-mana. Kadang-kadang ke Balai Desa, masjid atau gereja, lebih sering ke Kali Sawang. Simbahnya membiarkan Toile pergi semaunya, sampai dia sendiri harus kelabakkan mencari cucu satu-satunya. Toile bukan anak ayam yang akan pulang bila menjelang sore. Toile akan pulang, jika dia berkehendak makan atau ingat kandang burungnya.

“Nanti kalau keluar, pulangnya jangan terlalu malam, Le! Nanti simbah khawatir.” Ujar Simbah yang berdiri di depan pintu. Toile yang duduk memeluk lutut di samping kandang burung, menoleh ke arah Simbah. Sebentar. Lalu kembali pada kandang burungnya. Toile akan mendengar, tapi tak akan menjawab. Simbah akan memaklumi tingkahnya dan membiarkan Toile melenggang lari setelah bosan dengan kandang burungnya. “Bahkan engkau masih belum sadar, jika burungmu sudah mati, Le!”

Sebenarnya Toile sudah cukup umur untuk mengerti, jika burungnya telah mati. Tapi Toile belum cukup umur untuk jadi gila. Astaga! Anak sekecil itu. Hidup dari beban ke beban. Dia akan banyak diam. Dia juga akan banyak menceracau setibanya dia merasa geram. Apalagi jika dia ingat akan kelahiran dan yang melahirkan. Rupanya dia telah sering menelan serangkaian empedu dari peristiwa ke peristiwa.

Setiap pergi, dia akan di sana. Di Balai Desa mengadu kepada Kepala Desa. Di masjid-masjid mengadu kepada Tuhan milik ayahnya. Di gereja-gereja mengadu Tuhan milik ibunya. Atau di Kali Sawang mengadu pada air dan gemericiknya.

“Sayang sekali! Anak sekecil itu harus jadi bahan percobaan ibunya.” Mulut orang-orang akan serampangan begitu melihat Toile melintas di depan mereka. Toile tampak tidak perduli, apalagi mengerti. Tapi justru Toile yang sangat mengerti bagaimana dulu ibunya menggerakkannya. Sama sekali Toile tidak pernah mendapatkan ranumnya air susu dari ibunya. 

Ibunya memaksa menyusuinya dari sedotan-sedotan hangat air tajin, dengan sedikit parutan gula jawa yang dicampurkan agar bisa menawarkan dari rasa asin. Ketika Toile beranjak bisa memiringkan tubuh, Ibunya memaksa Toile untuk bisa duduk. Ketika beranjak bisa duduk, Toile dipaksa bisa merangkak. Ketika beranjak bisa merangkak, Toile dipaksa bisa berjalan. Ketika beranjak bisa berjalan, Toile dipaksa menjadi bapak bagi dirinya sendiri.

Bahkan orang-orang itu tidak jauh lebih tahu dari Kali Sawang, yang menyimpan serangkaian cerita atas hidup Toile. Di Kali Sawang, Toile membiarkan dirinya berbicara dan mendoa segala-galanya. Toile dan Kali Sawang telah memiih takdirnya sendiri untuk bertahan dari hidup. Kali Sawang, bukan lagi mencari udara tetapi sejenis benda yang bisa dibentuk semaunya. Sekumpulan air. Dia menyukai air apapun dan dari manapun. 

Boleh jadi hari ini air hujan, limbah pabrik, air kencing, atau yang lebih banyak berasal dari airmata. Air di Kali Sawang hampir-hampir memang bersumber dari airmata pendoa. Mereka adalah sekumpulan airmata yang diperas agar air di Kali Sawang tetap mengalir. Bahkan jika mereka tidak mau menangis, maka akan ada takdir yang akan memburukkan keadaan mereka sehingga mereka akan berdoa sembari menangis. Toile telah menjadi salah satu dari mereka.

Di atas batu besar yang tertanam di pinggiran kali, Toile menyandarkan ringkih tubuhnya. Sapuan angin yang meniupkan sorak-sorai dedaunan yang tertampar-tampar, membuatnya semakin gelisah. Toile harus teringat akan nasib yang menggorok jantungnya. Menyisir perlahan. Berjalan-jalan membentuk garis darah. Sirr! Jantungnya tersayat meluber isinya.

Sehidup sekali Toile memang harus berdoa sebisanya. Bagi jiwa-jiwa yang telah berat di sukma, seringkali Toile menghembuskan nafas berat dan mulai berdoa.” Wahai Tuhan dan Kali Sawang. Biar aku saja yang dijadikan lambang. Membangun boneka masa kecil atas paksaan dan siksa, akan berdarah-darah di masa tumbuhnya. Alangkah biadab! Biarkan mereka lahir seutuhnya dari rahim ibu. Bukan lahir dari tangan-tangan kuasa. Biarkan anak tumbuh sebagai anak!” Toile membiarkan matanya melahirkan anak air mata yang meliputi kegeramannya. Dan bercampurlah dengan air mata-air mata atas pendoa lainnya. 

Karya : Umi Latifah
Editro : Byaz
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad