***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » , » Tradisi Ritualisasi Keduk Bedji Sendang Tawun

Tradisi Ritualisasi Keduk Bedji Sendang Tawun

Written By Byaz.As on Rabu, 11 Mei 2016 | 05.00

Suryajagad.Net - Ritual tahunan bersih Desa kembali digelar warga Tawun, Kecamatan Kaserman- Ngawi. Tradisi yang dipusatkan di sendang Desa setempat itu berlangsung cukup menarik. Warga mandi lumpur secara beramai-ramai di area Sendang Tawun tersebut.

Menurut Mbah Parmin, Pasir yang diambil dari dasar bedji digosok-gosokkan ke bagian muka, tangan dan kaki. Mitosnya,mandi lumpur yang dibarengi dengan menguras sendang Tawun bisa awet muda dan terhindar dari berbagai penyakit kulit.

"Cerita turun temurun dari nenek moyang, apabila saat dilakukan acara Keduk Bedji, mengambil pasir dari dasar Sendang tawun dan digosokan kebagian muka, tangan, dan kaki akan terhindar dari segala macam penyakit serta akan awet muda," terang Mbah parmin Warga Desa Tawun, Selasa (10/06/2016) 

Bagi warga Desa Tawun warisan nenek moyang tradisi Keduk Bedji layak untuk dilestarikan. Upacara bersih Desa ini digelar setiap tahun tepat pada tiap menginjak hari  Selasa Kliwon. Ada legenda yang mengakar turun temurun dan akan terus dilestarikan.

Sementara itu dalam upacara keduk Bedji tersebut, tampak hadir Bupati Ngawi Ir. H. Budi Sulityono, beserta jajaran pemerintahan Kabupaten Ngawi. Dalam kesempatan tersebut Mbah Kung sapaan akrab Bupati Ngawi, tanpa canggung berbaur dengan warga masyarakat untuk menikamti nasi genduri.

Sementara itu pula dalam rilis Suryajagad.Net dari Sinarngawi.com, legenda Keduk Bedji bermula pada abad ke-15. Ketika Sahibul hikayah, Ki Ageng Tawun (disebut pula Ki Ageng Mentaun) menemukan mata air yang kemudian diberi nama Sendang Tawun. 

Di sekitar sendang itu Ki Ageng Tawun dan istri menetap hingga dikarunai dua anak, yaitu Raden Lodrojoyo dan Raden Hascaryo. Keduanya memiliki kegemaran berbeda. Raden Lodrojoyo lebih suka bertani, sedangkan Raden Hascaryo lebih mendalami ilmu kanuragan dan berguru kepada Raden Sinorowito (putra Kesultanan Pajang).

Raden Hascaryo lantas diangkat menjadi senapati (panglima perang). Menyadari tanggung jawab berat yang dipikul Raden Hascaryo, Ki Ageng Tawun memutuskan memberikan pusaka andalannya berupa selendang bernama Kyai Cinde sebagai bekal saat anaknya itu terlibat dalam peperangan antara Pajang dan Blambangan. Di sisi lain, Raden Lodrojoyo memilih hidup bersahaja dan selalu dekat dengan rakyat kecil.

Keinginannya yang cukup kuat untuk kepentingan warga adalah bagaimana menjadikan mata air Sendang Tawun tidak pernah habis dan berhenti mengaliri area persawahan. Meskipun pada musim kemarau panjang. 

Suatu hari, tepatnya Jumat Legi, setelah memohon izin ayahnya, Raden Lodrojoyo bersemedi dengan bertapa sambil berendam dalam air di Sendang Tawun. Memohon petunjuk Yang Maha Kuasa agar diberi kemudahan membantu warga yang kebanyakan kaum petani. Tengah malam saat menjalani tapa kungkum, Raden Lodrojoyo dikagetkan oleh suara ledakan menggelegar.

Warga juga kaget dan berhamburan ke luar rumah. Mereka berbondong-bondong menuju asal ledakan. Masyarkat kaget dan penuh keheranan menyaksikan Sendang Tawun telah berpindah tempat ke sebelah utara dengan posisi yang lebih tinggi dibandingkan areal persawahan warga. Air sendang itu pun deras mengaliri area persawahan warga Desa tersebut.

Ketika warga bersuka cita menyaksikan area sawahnya teraliri dan tidak lagi cemas kekeringan di musim kemarau, justru saat itu keberadaan Raden Lodrojoyo raib dan tidak ditemukan. Air di sendang dikurasnya hingga dasarnya tampak. Namun, jasad Raden Lodrojoyo tidak pernah ditemukan.

Meski demikian, warga terus mencarinya hingga menginjak hari Selasa Kliwon. Jasad sang Raden tidak diketemukan. Untuk mengenang kejadian dan jasa Raden Lodrojoyo, hingga kini setiap tahun di Taman Wisata Tawun selalu diadakan ritual bersih Desa pada hari Selasa Kliwon.

Tradisi bersih desa atau nyadran hingga kini masih dilestarikan.  Ritualisasi nyadran Keduk Bedji  sendang Tawun pada Selas Kliwon (10/05/2016) digelar cukup meriah. Antusias warga masyarakat Kabupaten Ngawi, berbondong-bondong memadati area Sendang Tawun tersebut. 

Sendang Tawun tidak hanya menjadi lokasi ritual, namun  juga menjadi salah satu obyek wisata pemandian andalan Pemerintah Kabupaten Ngawi. Selain wisata ritual Keduk Bedji, Wisata Tawun juga memilik keunggulan sebagai lokasi berkembang biaknya habitat bulus jawa. (Byaz)

Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad