***BEDAH TUNTAS BUDIDAYA AGROBISNIS SEMUT RANG-RANG MSB***BERSINERGINYA GNP DENGAN MSB TEBAR KEBAHAGAIAN UNTUK ORANG PINGGIRAN***SRIKANDI GNP DIVISI HONG KONG SABET JUARA 3 DALAM LOMBA MARS KEBANGSAAN***STOP PRESS AKAN DILAKUKAN BAGI ANGGOTA DARI MEDIA ONLINE SURYAJAGAD.NET YANG TIDAK AKTIF***
Home » » Sikap Saat menghadapi Cobaan Ada 4 Tingkatan

Sikap Saat menghadapi Cobaan Ada 4 Tingkatan

Written By Byaz.As on Minggu, 09 April 2017 | 07.35

Suryajagad.Net – Satu ciri utama dunia yang tidak akan pernah hilang ialah masalah. Siapapun yang namanya masih hidup di bumi ini pasti akan menghadapi masalah, karena masalah ada di mana-mana, mulai dari kolong jembatan sampai istana kekuasaan. Dari anak-anak hingga kakek-nenek, semua berhadapan dengan masalah. Prinsipnya setiap jiwa memiliki masalah.

Allah Ta’ala sebagai Pencipta Alam Semesta sudah mengetahui dan karena itu juga telah mempersiapkan metode terbaik dalam menghadapi setiap masalah, yakni dengan sabar dan shalat. Allah ta’ala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Adapun sikap yang harus diambil dalam menghadapi cobaan ada 4 tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah marah dengan takdir yang Allah berikan. Boleh jadi kita marah dalam hatinya dengan bergumam, boleh jadi kita ucapkan dengan lisan. Orang yang marah dengan takdir Allah, maka kita dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kesyirikan dengan sebab kita mencela takdir. Dan marah kepada takdir pada hakikatnya marah kepada Allah.

“Dan di antara manusia, ada yang menyembah Allah di pinggiran. Jika ia diberi nikmat berupa kebaikan, maka tenanglah hatinya. Namun jika ujian menimpanya, maka berubahlah rona wajahnya, jadilah ia merugi di dunia dan di akhirat.” (QS. Al-Hajj: 11).

Tingkatan kedua adalah sabar, Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit. Namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu. Ketika seseorang merasakan beratnya ujian dan tidak suka dengan ujian yang menimpanya, namun kita lebih memilih bersabar sehingga kita merasa ada atau tidaknya ujian sama saja. Meskipun kita tidak menyukainya, namun keimanannya menghalanginya untuk marah.

Bersabar ketika menghadapi cobaan hukumnya wajib, dan seseorang yang tidak bersabar ketika itu akan terjerumus dalam dosa. Dan sabar adalah tingkatan yang paling minimal yang dimiliki oleh seorang Muslim ketika menghadapi cobaan. Adapun tingkatan yang lebih tinggi dari sabar, hukumnya sunnah dan lebih afdhol (utama).

Tingkatan ketiga lebih tinggi dari tingkatan sebelumnya, yaitu ridho. Kita jadikan ujian dan nikmat yang menimpanya sama saja, yaitu sama-sama bagian dari takdir dan ketetapan Allah, meskipun musibah tersebut membuat hati sedih, karena kita adalah seorang yang beriman pada qodho dan qodar.

Dimana saja Allah tetapkan qodho dan qodarnya, seperti tertimpa kesulitan atau mendapatkan kemudahan, tatkala mendapat nikmat atau sebaliknya yaitu tertimpa musibah, semua itu sama saja. Bukan karena matinya hati, namun karena kesempurnaan ridho dengan takdir Allah, sebagai Rabb yang mengatur urusannya. Jika kita melihat dalam kacamata takdir Allah, bagi kita sama saja antara nikmat dan musibah. Sehingga hal inilah yang menjadi pembeda antara sabar dan ridho.

Keempat tingkatan tertinggi dan yang paling utama dalam menghadapi cobaan. Karena kita bisa bersyukur atas musibah yang menimpa. Oleh karena itu, kita bisa menjadi hamba Allah yang penuh rasa syukur ketika melihat masih banyak orang lain yang lebih berat musibahnya dibandingkan diri kita. Musibah dalam hal dunia lebih ringan dibandingkan musibah dalam hal agama, karena adzab di dunia lebih ringan dibandingkan adzab di akhirat.

Pada hakikatnya, musibah adalah penghapus dosa dan akan menjadi tambahan kebaikan di sisi Allah tatkala kita menjadi hamba yang bersyukur. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah suatu kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, bahkan tusukan duri sekali pun, kecuali akan menjadi penghapus dosa baginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah tingkatan skiap menghadapi cobaan, kita berharap bisa digolongkan minimal sebagai orang bersabar, tatkala tertimpa musibah, dan berusaha semaksimal mungkin menjadi orang yang ridho dan bersyukur tatkala tertimpa musibah. Semoga Allah hapuskan dosa kita semua dengan sebab musibah yang menimpa diri kita. (Dirangkum dari berbagai sumber)

Editor : Byaz
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Penerbit: PT CAKRA BUANA RAYA, Kep.Kemenkumham RI No: AHU-0067169.AH.01.09 TH 2009
Copyright © 2011. Byaz Surya Djagad - Inovatif Dan Kooperatif - All Rights Reserved
Template MAS TEMPLATE Website Created by BSDJ TV
Proudly powered by Byaz Surya Djagad